Setelah suamiku meninggal, adik perempuanku tinggal bersamaku. Dia mengangkatku menjadi bibi di rumahnya sendiri. Aku bersabar selama 3 tahun, sampai akhirnya aku mengusir adik perempuanku
Setelah Suami Meninggal, Adik Tinggal Bersama Saya. Dia Perlakukan Saya Seperti Pembantu di Rumah Sendiri. 3 Tahun Saya Bersabar, Akhirnya Saya Usir Dia
Adik tinggal bersama saya dengan alasan ingin menemani saya yang baru kehilangan suami. Namun, dia berubah jadi sombong, sering membentak saya dan anak–anak, bahkan berani bertindak kasar terhadap anak–anak saya. Sampai akhirnya, saya mengusirnya...
(Foto hanya ilustrasi)
Assalamualaikum dan terima kasih kepada admin serta para pembaca yang berkenan meluangkan waktu membaca curahan hati saya. Sebelum bercerita, izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Puan Fatin (bukan nama sebenarnya), seorang ibu tunggal yang telah kehilangan suami dan kini membesarkan tiga anak.
Sejak menjadi janda, saya menghadapi banyak ujian hidup. Pengalaman ini sungguh menguji kesabaran dan kekuatan saya. Dengan berbagi kisah ini, saya berharap bisa mendapat pandangan jujur dari kalian, terutama tentang pertanyaan yang terus menghantui hati saya: Apakah saya seorang kakak yang kejam?
Awal Kisah Bersama Adik
Setelah suami meninggal, saya merasa sangat kesepian dan terpuruk. Saat itu, adik saya datang untuk menemani dan membantu mengurus anak-anak.
Waktu itu dia baru saja berhenti kerja, jadi semua kebutuhan ditanggung oleh saya. Saya ikhlas, apalagi karena dia membantu menjaga anak-anak. Saya pikir kehadirannya akan membuat rumah jadi lebih ceria, tapi ternyata kenyataannya tidak semudah itu.
Perubahan Sikap yang Mengecewakan
Beberapa bulan kemudian, adik mendapat pekerjaan. Namun, sikapnya ikut berubah. Dia makin sombong dan egois. Saya sering jadi korban bentakan, bahkan anak-anak pun diperlakukan kasar.
Kadang dia mencubit atau menarik rambut anak-anak saya saat marah. Walaupun mereka mengadu, saya berusaha bersabar agar tidak memperkeruh suasana. Pernah juga kami tidak saling bicara berbulan-bulan. Setiap nasihat yang saya berikan diabaikan, dan saya merasa dia justru menyimpan dendam kepada saya.
Malas dan Menyusahkan
Kesabaran saya benar-benar diuji ketika adik kembali berhenti kerja, kali ini dengan keinginannya sendiri. Semakin lama tinggal bersama saya, sifat malasnya makin terlihat.
Dia bangun siang, kamarnya bau dan berantakan, jarang mau bantu pekerjaan rumah. Saya yang bekerja, terpaksa pulang ke rumah yang kotor dan berantakan. Sementara adik sibuk dengan ponselnya atau tidur di kamar.
Kalau saya minta tolong, dia melakukannya dengan wajah tidak ikhlas, bahkan sering kali tidak dikerjakan sama sekali. Kamar mandi pun sering dibiarkan kotor padahal paling banyak dia yang pakai.
Pertengkaran Memuncak
Suatu hari, kami bertengkar hebat hingga hampir sebulan tidak bicara. Dalam masa itu, adik memperlakukan saya seperti pembantu di rumah sendiri. Piring yang dipakai ditinggal begitu saja, akhirnya saya yang mencuci karena tidak tahan melihat rumah kotor.
Sepulang kerja, saya tetap harus mengurus rumah dan anak-anak dalam kondisi lelah, sementara adik hanya berbaring di kamar. Karena tertekan, saya jadi sering melampiaskan kemarahan kepada anak-anak. Akhirnya saya memutuskan untuk mengusir adik dari rumah.
Tanggapan Ibu yang Melukai Perasaan
Keputusan saya membuat ibu marah. Beliau menganggap saya kejam karena mengusir adik yang sedang menganggur.
Padahal, adik tidak tinggal bersama ibu, tapi malah menyewa kamar. Namun, ibu tetap menyalahkan saya. Katanya adik sedang kesulitan ekonomi, sementara saya merasa beliau tidak memahami penderitaan saya selama tiga tahun menanggung adik. Saya yang memberi makan, tapi justru dicap kakak tidak berhati nurani.
Sikap Adik yang Membingungkan
Yang membuat saya heran, adik yang dulunya sering berselisih dengan ibu, justru terlihat akur dengan ibu setelah keluar dari rumah saya. Kalau benar dia susah, kenapa tidak tinggal bersama ibu? Malah dia mengadu kepada ibu, lalu saya yang dipersalahkan.
Pertanyaan Hati Seorang Kakak
Di balik semua ini, saya tetap merasa sedih. Sebagai kakak, tentu saya ingin menjaga hubungan baik dengan adik. Namun, saya juga butuh ketenangan.
Sejak adik pergi, perasaan saya jauh lebih tenang. Saya bisa mengurus anak-anak tanpa tekanan, rumah lebih teratur, dan kebahagiaan yang lama hilang kembali hadir.
Apakah Saya Kejam?
Saya tahu ibu khawatir pada adik, tapi saya sudah bersabar menanggungnya selama tiga tahun. Mengusir adik bukan keputusan mudah, tapi saya yakin itu yang terbaik.
Saya harus menjaga kondisi mental agar bisa membesarkan anak-anak dengan baik. Saya juga berhak hidup dengan tenang. Maka saya bertanya: Apakah saya kejam? Apakah salah jika saya memilih kebahagiaan diri dan anak-anak?
Saya benar-benar berharap mendapat pandangan jujur dari kalian yang mungkin pernah mengalami hal serupa.
Komentar Netizen:
Nur :
Memang pantas untuk dijadikan pelajaran. Biar dia sadar diri, jangan jadi perempuan malas dan jorok. Besarkan anak-anak dengan baik, Bu. Jangan peduli apa kata orang. Allah tahu. Nanti adik sendiri akan sadar kesalahannya, insyaAllah hubungan kalian akan baik kembali. Namanya saudara, meski sering bertengkar, akhirnya akan akur lagi walaupun butuh waktu.
Norizan :
Menurut saya, kakak tidak kejam. Justru adik yang kejam. Nanti pasti akan ada teman kosnya yang cerita tentang kelakuannya. Soal ibu, biarkan saja. Tidak perlu dijelaskan. Kalau ada saudara lain, ceritakan pada mereka. Kalau tidak ada, jangan sampai bikin pertengkaran baru. Biarkan saja mereka akur, asal tidak merepotkan (minta uang ke kita). Ibu tidak marah sebenarnya, karena bagi beliau kalian berdua tetap anaknya. Semoga bahagia.
📌 Catatan: Admin tidak bertanggung jawab atas komentar pembaca. Semua komentar sepenuhnya tanggung jawab masing-masing penulis.